Langsung ke konten utama

Aku Ingin Menyerah, Tapi...

 


Tiba-tiba air mata menetes membasahi pipi. Dada terasa nyeri dan sesak. Sudah berminggu-minggu, aku berada dalam kondisi yang tak menentu. Jantungku berdebar ketakutan tiap kali suara nafas yang semakin berat itu terdengar olehku. Memori buruk menyeruak menjadikanku berpikir berlebihan.

Sore itu aku harus pergi meninggalkan zona nyamanku. Dengan persiapan yang seadanya, aku pergi dan berharap semua akan segera baik-baik saja sehingga aku segera kembali. Kukira kepergianku hanya sebentar. Namun, nyatanya Allah Subhanahu wa ta'ala berkehendak lain.

Aku mengeluh dan merasa berat. Aku mengadu pada Dia Yang Maha Kuasa. Mengapa aku harus ada di posisi seperti ini? Aku lelah Ya Allah. Aku merasa berat dan tidak ingin berada di posisi seperti ini.

Aku merasa ingin menyerah. Berbagai skema "andai saja" muncul di kepalaku. Berangan-angan andai tidak begini dan begitu pasti aku tidak akan ada di masa sulit ini.

Tapi ternyata semua itu percuma. Hai diriku! Percuma kamu berandai-andai. Kamu tidak akan bisa lari dari kenyataan. Hadapi apa yang ada di depanmu. Jangan lari dan menghindar.

Lalu aku terdiam. Meneteslah air mata. Aku menangis sejadi-jadinya. Mengapa aku malah menyalahkan keadaan? Mengapa aku malah kecewa terhadap apa yang telah Allah Subhanahu wa ta'ala takdirkan untukku? Mengapa aku tidak bisa menerima apa yang telah Dia takdirkan untukku? Bukankah ketetapan Allah itu adalah yang terindah?

Apa yang terjadi dalam hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Lalu aku kecewa dan tidak bersabar terhadap ketetapan Allah? Padahal aku sendiri tidak tahu apakah dari apa yang aku inginkan itu akan ada hal baik untuk perkara akhiratku. Sungguh menyedihkan sekali seorang hamba sepertiku yang tidak mengetahui posisinya.

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) [muslim.or.id]

Apa yang harus aku tanamkan baik-baik adalah apa yang Allah Subhanahu wa ta'ala kehendaki tentulah itu yang terbaik. Jangan sampai aku tertipu bahwasanya aku tidak akan mendapat apapun dari setiap tetes keringat yang telah mengucur dalam rangka berusaha mencari ridha Allah sehingga aku merasa kecewa.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Qs. Az-Zumar: 10) [firanda.com]

Harusnya aku merasa bahagia ketika Allah berikan aku ujian. Mengapa? Karena itu tanda kasih sayang Allah. Allah Subhanahu wa ta'ala tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Akan ada pahala tanpa batas ketika aku terus bersabar tanpa tapi.

Meyakini bahwa setelah kesulitan selalu akan ada kemudahan adalah jalan ninjaku. Yakin bahwa Allah akan menolongku, mengokohkan langkah kakiku, menguatkan bahuku, dan menopang lemahnya tubuhku sehingga aku mampu berjalan dengan tegak menghadapi cobaan yang Ia berikan.

Aku tidak boleh menyerah! Terus bertawakkal memohon pertolongan kepada Allah karena tiada daya dan upaya kecuali pertolongan dari-Nya.


-Penghujung tahun di kota yang dirindu-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penting Untuk Dibaca Buat yang Suka Overthinking

Kadang-kadang yang namanya manusia suka overthinking ya. Berlebihan mikir gitu lho. Gimana kalau gini terus gimana kalau gitu. Bisa jadi kalau yang single dan ingin menikah, kepikiran nanti bakalan nikah sama siapa. Terus bisa nggak ya pasangannya menerima kelebihan dan kekurangannya. Nanti kalau nggak bisa bakal gimana ya rumah tangganya? Kalau yang anak sekolahan atau kuliahan bisa jadi overthinkingnya tentang gimana kalo sekolahnya atau kuliahnya susah, nanti bakal lulusnya gimana, kerja dimana, terus bisa memenuhi keinginan orang tuanya atau nggak, dan sebagainya. Sebagai orang tua pun kadang overthinking. Misalnya aku sebagai seorang ibu kadang-kadang kepikiran gimana ya nanti kalau anakku sudah besar, apakah dia bisa menjaga dirinya sendiri di zaman seperti ini zaman yang penuh fitnah? Aku rasa aku nggak sendirian menjadi orang tua yang overthinking. Banyak ibu-ibu juga bapak-bapak yang berpikir yang sama denganku. Memiliki kekhawatiran tersendiri untuk buah hati mereka. Ya yang ...

Merekalah Orang-Orang yang Cerdas

Bagaimana pendapat kita saat ditanya tentang apa itu cerdas? Ada yang bilang cerdas itu kalau juara umum dari SD sampai kuliah. Nggak sedikit juga yang menganggap kalau cerdas itu yang berhasil lulus kuliah cepat plus indeks prestasi cumlaude plus bekerja di perusahaan multinasional atau jadi PNS. Bahkan ada yang berpendapat kalau orang cerdas itu mereka yang berprofesi sebagai ilmuwan. Pendapat-pendapat tersebut boleh-boleh saja karena cara pandang setiap orang terhadap sesuatu tentunya beda-beda. Tapi sejatinya ada pakem tersendiri tentang kecerdasan. Cerdas tentang kehidupan dunia penting tapi jangan lewatkan kecerdasan yang sesungguhnya. Cerdas yang sesungguhnya Pernah nggak sih terbersit dalam hati kita rasa iri melihat teman yang menurut kita cerdas? Golongan cerdas yang berhasil dalam pendidikannya. Selalu juara pertama dan menempati posisi best of the best dalam setiap kesempatan atau bahkan pada teman di dunia kerja. Well, iri dalam pencapaian dunia memang sering menghiasi ...